Langsung ke konten utama

Introvert yang Sombong (?)

          Kebahagiaan atau kegembiraan menurut wikipedia adalah "suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens. Berbagai pendekatan filsafat, agama, psikologi, dan biologi telah dilakukan untuk mendefinisikan kebahagiaan dan mengidentifikasikan beberapa hal yang berhubungan dengan kebahagiaan antara lain; hubungan dan interaksi sosial, status pernikahan, pekerjaan, kesehatan, kebebasan demokrasi, optimisme, keterlibatan religius, penghasilan, serta kedekatan dengan orang-orang bahagia lain. Para peneliti dan pemikir telah sering mendefinisikan kebahagiaan dalam kaitan dengan kehidupan yang baik dan tidak hanya sekadar sebagai suatu emosi"


      Jika saya (extrovert) adalah individu/kelompok yang menginginkan sebuah kebahagiaan demi kesenangan bersama,  Itu berarti saya (extrovert) akan melakukan upaya kebahagiaan melalui pendekatan psikologi demi mencapai kesenangan bersama - sama. Dengan kata lain, maka ada banyak cara yang dapat saya (extrovert) lakukan untuk mewujudkannya tanpa harus melibatkan pihak lain yang tidak menginginkan hal yang sama dan atau menyebabkan kecanggungan. Karena menurut saya (extrovert) proses kebahagiaan/kegembiraan itu sendiri hanya akan mencapai titik klimaksnya jika dilakukan untuk dirasakan bersama - sama dan dengan jiwa - jiwa yang senada

         Tapi disisi psikologi lain yang berbeda, ada juga individu (introvert) yang cukup klimaks merasakan kebahagiaan/kegembiraan dengan upaya dan untuk dirinya sendiri karena ditandai berbagai alasan kehidupan yang baik dan tidak hanya sekadar sebagai emosi, hubungan, interaksi sosial dan lainnya. Tentu alasan utama yang relefan mewakili psikologi adalah karena individu (introvert) itu hanya akan merasakan senang jika kebahagian/kegembiraan itu dilakukan dan dirasakan untuk dirinya sendiri atau dalam situasi tertentu individu (introvert) itu akan melibatkan segelintir orang yang dianggapnya perlu tanpa harus melibatkan orang lainnya yang dianggapnya tidak perlu untuk menjalani dan merasakan proses kebahagiaan/kegembiraan itu sendiri dan tidak merugikan orang pihak lain.


        Pada prakteknya dalam suatu jalinan pertemanan misalnya, orang - orang yang menjalankan aktifitas kebahagiaan/kegembiraan bersama - sama akan cenderung melihat dan menilai spontan orang lainnya yang enggan untuk melibatkan diri dalam situasi tersebut sebagai seorang/individu yang tidak punya daya tarik, sombong, dingin, egois, selektif, terlalu membeda - bedakan dan persepsi negatif sedemikian rupa lainnya hingga "kebencian" yang dimana tidak melalui pertimbangan/toleransi analisa positif. 

         Alhasil, atas kekeliruan sikap spontanitas dalam mempersepsikan diri orang lain, justru akan menimbulkan kegaduhan satu sama lainnya dan memicu ketidakharmonisan dalam setiap hubungan interaksi sosial (misalnya pertemanan). Padahal dalam konteks ini, tanpa melibatkan keikutsertaan satu orang yang dipersepsikannya negatif itu, juga tidak akan mengurangi titik klimaks kebahagiaan mereka karena mereka telah memiliki banyak jiwa - jiwa lainnya yang sekiranya senada dan orang yang enggan melibatkan diri juga akan merasa baik - baik saja dan tentu sudah menjadi nalar baik dirinya tentang apa yang harus dilakukan dan tidak perlu dilakukan tanpa perlu saling menyikapi negatif karena semua individu juga menginginkan sebuah hubungan yang baik dengan makhluk sosial lainnya. Hanya saja tidak bisa dipungkiri, beberapa diantara individu di bumi masih kurang memliki pemahaman dalam menyikapi perbedaan dan jadilah diantara "kami" saling marah - marah hahaha

           
           Jika ini terus terjadi pada diri introvert tanpa melakukan sebuah upaya tertentu untuk menghindari kondisi keadaan yang memaksanya untuk melibatkan diri yang sekiranya berdampak buruk baginya, boleh dikatan sama saja mengorbankan diri sendiri, mengganggu mental dan menghalangi langkahnya mencapai kesetaraan berbahagia. Sedangkan untuk extrovert sendiri tidak berlaku buruk baginya karena sudah menjadi bagian dirinya untuk saling bersosial dan cenderung merasakan damai bahagia disekitar orang banyak. Sebenarnya tidak ada yang salah dan tidak ada yang jadi mengorbankan diri/perasaan, hanya saja sialnya diantara kita makhluk - makhluk yang berbeda - beda ini, masih ada banyak yang keliru atau bahkan tidak tahu sama sekali memahami karakteristik orang lain hingga akhirnya terjadi intoleransi. Tentu hal ini sangat disayangkan, mengingat kita semua manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna, dan tidak ada satupun manusia yang sempurna.

          Mungkin yang perlu kita lakukan sebaiknya jika menghadapi hal seperti ini (saran dari guru saya; pengalaman) adalah dengan mengawali introspeksi diri, mengenali dan memahami situsasi yang terjadi, selanjutnya komunikasi dan kejujuran. Demikian hal - hal tersebut memang adalah yang perlu kita bangun sejak awal dalam suatu hubungan/interaksi sosial karena dari situ orang - orang yang memliki pandangan berbeda satu sama lainnya terhadap toleransi patut untuk kita respon dan tanggap sebagai makhluk sosial yang memiliki karakterisitik yang berbeda - beda, bukan dengan mendiskriminasi/mendiskreditkan orang lain dan malah mengaitkan suatu keadaan tertentu dengan persepsi negatif yang justru merugikan diri masing - masing dan mengakibatkan kesemrawutan yang berkepanjangan dan masalah pelik yang semakin menjadi - jadi. 

             
             Dengan begitu sudah menjadi keharusan dan tanggung jawab masing - masing untuk saling menghargai kebebasan dan saling melindungi terlepas dari siapa kita (introvert/extrovert). Jalankanlah hubungan dan komunikasi yang baik, biarkanlah semua memiliki caranya masing - masing untuk mencapai kebahagiaan dan tidak merugikan pihak manapun. Soal buruk prasangka memang sudah jadi bagian dari yang tak terpisahkan dari dalam diri manusia, oleh karena itu perlunya sebuah introspeksi, analisa, pemahaman situasi dan komunikasi yang autentik untuk mendisiplinkan jalinan hubungan interaksi sesama makhluk sosial

Demikian ulasan singkat ini, semoga bisa bermanfaat dan senantiasa menyadarkan diri kita masing - masing :) :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peniadaan Diri

       Dalam peniadaan diri, bagiku ini seperti kehadiran djafu yang sedang ku alami, entah karena efek stimulan malam hari setelah meneguk kopi sambil menghisap tembakau itu, tapi seketika melihat sesosok menakutkan bernama dunia dan kematian, itu rasanya benar2 hadir nyata seperti memory yg pernah terjadi dalam peristiwa hidupku sebelumnya. Seperti  sedang memandangku tajam bermaksud menyampaikan pesan penting untuk ku ketahui.. "Who am I"       Tatapnya tajam memandangku penuh misteri, namun diriku masih dalam kekosongan. Entahlah apa yang terjadi saat itu, rasanya seperti berada disituasi yg fana, terang tapi gelap, terombang-ambing. Yg ada hanya cemas, gelisah, berselimut ketakutan tiada sirna.         Seketika itu dikepalaku mulai bertanya-tanya, mungkinkah setiap fenomena ini hanyalah khayal jauh alam bawah sadarku? atau inilah wujud nyata yang sedang ku jalani? Lalu bagaimanakah wujud yg Maha Besar disana ...

Sinkronisasi Hubungan

Pemahaman tubuh dan sifatnya; Pada taraf berbahagia, peran pikiran, raga, materi, dan spiritual. Juga terdapat di jiwa manusia tentang unsur kekuatan lainnya mewakili perasaan senang, hati yg damai, jiwa yg tenang atau juga ikatan perasaan satu sama lain secara personal persuasif menyangkut jenjnag hidup selanjutnya Dimana seseorang mulanya merasakan sinyal kecintaannya terhadap insan melalui mata hati dan akal pikirannya yg mengalami tahapan kebersatuan yg kompleks dan membentuk frequensi hati yg senada Karenanya sebagian besar persepsi tentang alasan perilaku percintaan cenderung menjadi faktor utama menjadikan ketenangan/kebahagiaan batin seseorang Dikatakan bahwa cinta sejatinya bukan lagi sekadar aktifitas luapan hati dengan siklus rentang waktu singkat yg ditempuh seseorang dalam mencapai kesempuraan batinnya terhadap seseorang yg menjadi pasangan hidupnya